Jumat, 20 Mei 2011

DYAH AYU PITALOKA di zaman MAJAPAHIT

Alkisah, Majapahit adalah negara kerajaan yang besar di masa lampau, sekitar abad 14. Sang Patih, Gajahmada (GM) adalah otak kejayaan Majapahit. Namun, wilayah pasundan adalah satu-satunya daerah di Jawa -bahkan di bumi nusantara yang belum berhasil disatukan (dikuasai) oleh Majapahit. Kekuasaan yang luas membentang dari semenanjung Malaka, Filipina hingga ujung timur tak lengkap tanpa masuknya tatar Sunda, wilayah belakang pekarangan Majapahit sendiri.
Inspirasi sejarah diatas yang melahirkan Dyah Pitaloka (DP) sebuah karya sastra bergenre fiksi besutan Hermawan Aksan dan Perang Bubat (PB) sebuah fiksi realis buah pena Langit Kresna Hariadi. Sekalipun didasari oleh latar belakang sejarah yang sama, masing-masing karya tersebut berdiri sendiri untuk menyakinkan pembacanya, seolah-olah jalinan cerita buku tersebut adalah ’sejarah yang benar’.
Dikisahkan dalam keduanya, Hayam Wuruk (HW) adalah raja kerajaan besar yang sudah waktunya beristri, namun belum memiliki calon. Hal itu menimbulkan kegelisahan Tribuanatunggadewi, sang ibu yang sekaligus raja sebelum HW. Diadakanlah seleksi wanita-wanita tercantik Majapahit dengan cara mengirim para pelukis kerajaan ke seluruh wilayah. Tapi, tak satupun hasil lukisan tersebut yang menggetarkan sang prabu. Kemudian, datanglah ide untuk ”mengikutkan” putri raja Sunda Galuh yang terkenal ayu, Dyah Pitaloka Citaresmi (DPC). Raja Linggabuana (LB) terbuka, namun pelukis majapahit yang dikirimkan kesulitan untuk melukis keelokan wajah sang putri.

Sampai pada titik tersebut, DP dan PB relatif sama dalam membawakan konten cerita, dan hanya kekhasan pengarang lah dalam berbahasa dan merajut cerita yang membedakan. DP lebih fokus dalam ’merekonstruksi’ sejarah tersebut, dan menjadikan DPC sebagai inti cerita. Sedangkan PB, banyak ’bumbu’ yang muncul, dimana menjadikan GM sebagai pusat cerita. Hal tersebut tentu tak bisa dilepaskan dari ’proyek’ pentalogi Gajahmada-nya LKH (PB adalah buku keempat), sebuah upaya membangkitkan tokoh Gajahmada di masa kini, orang luar biasa yang mampu menyatukan nusantara dengan teknologi dan sarana yang ada di masa tersebut.

Perbedaan cukup terbuka, adalah dalam mendeskripsikan Dyah Pitaloka Citraresmi. Dalam keseharian, DP melukiskan DPC adalah putri sunda yang lembut, peduli dengan perempuan sunda, cerdas, banyak membaca (juga kitab-kitab Majapahit), menjaga diri, dan berperangai sopan. PB menempatkan DPC sebagai putri sunda yang tangkas, mandiri, memberontak orang tua, dan pandai berkuda. Sekalipun DP dan PB juga menggambarkan kesamaan dimana DPC sudah jatuh hati kepada orang lain sebelum lamaran majapahit datang, DP lebih menjaga karakter DPC karena DPC tidak pernah berbuat lebih jauh. Sedangkan PB, DPC sampai menyerahkan ’tubuh’nya sebelum HW berhasil menikahinya.
Seperti apa DPC sebenarnya, kita tak pernah tahu. Satu yang pasti, garis paras DPC mampu membuat HW tak bisa berpaling dari lukisan sang putri tatar sunda itu, dan sebuah upacara pernikahan besar pun disiapkan. Namun GM tetap keukeh menjadikan pernikahan tersebut sebagai bentuk ’penyatuan’ Sunda ke dalam Majapahit.
Dan di PB, hal itu dituliskan karena Majapahit membayar ongkos mahal mengamankan perairan nusantara dari Tartar yang sangat ingin menguasai nusantara, sedangkan Sunda tak segera bersatu bahkan masih berhubungan dengan Tartar. Sekalipun keluarga kerajaan menentang termasuk Tribuanatunggadewi mengingat ikatan keluarga jauh yang masih ada antara Majapahit dan Sunda Galuh, serta eratnya hubungan keseharian dagang hingga banyaknya orang Jawa-Sunda yang saling menikah.
Kemudian, Langit Kresna menerjemahkan keinginan GM tersebut dengan mengangkat DPC sebagai raja, atas inisiatif Prabu Linggabuana sendiri. Sehingga pernikahan tersebut adalah pernikahan sederajat, antara raja dan raja. Hal ini tentu sebuah fiksi nyata, karena bagaimanapun sejarah mencatat LB yang berstatus raja dan putrinya datang ke Majapahit untuk pernikahan tersebut.

Lalu sampailah pada setting tema cerita, DPC dan ayahnya berangkat bersama beberapa pengawal ke Majapahit hingga tiba di Bubat, sebuah desa di perbatasan kotaraja. Dan disini, Hermawan menjadikan GM sebagai tokoh dibalik sejarah kelam perang bubat. Gajahmada menahan HW untuk menjemput ke Bubat padahal hal tersebut yang dijanjikan bersama sebelumnya. GM dan pasukan besarnya lah yang menjemput dan menyatakan pernikahan ini sebuah persembahan penyatuan wilayah. Namun, Langit Kresna-yang sangat mengidolakan Gajahmada tampaknya- memutihkan nama GM dengan menjadikan kisah pilu tersebut sebagai hasil kerja anak-anak buahnya yang sengaja ’salah’ mengartikan keinginannya, sehingga anak buahnya lah yang menjadi sebab onar perang bubat.

Akhirnya sejarah menuliskan peristiwa bubat, perang tak seimbang antara kujang dan keris sampai raja dan semua pengawal sunda tewas. Sang Putri punya harga diri, maka dihujamkannya sesuatu (DP menyebut tusuk rambut, PB menggunakan kujang kecil) ke jantungnya, nyawanya pun meregang.

Kedua buku bercerita akhir perang bubat dengan cara berbeda. DP membuat kisah dramatis saat menjelang DPC meninggal, bersamaan dengan datangnya Hayam Wuruk ke tanah Bubat dan DPC pun sempat melihat ketampanan HW. Hayam Wuruk memegang tubuh Dyah Pitaloka dan didekapnya sang putri untuk menghembuskan nafas terakhir. Di PB, akhir hidup DPC dipelukan Saniscara (LKH membuat tokoh fiktif), kekasih sejati DPC, seorang seniman dari Jawa yang akhirnya pun ikut mati terpanah.

Dan Majapahit berkabung. Hermawan mengakhiri cerita Dyah Pitaloka dengan dinginnya hubungan Hayam Wuruk-Gajahmada, sakitnya HW dan pemintaan maaf Majapahit kepada Sunda atas kejadian Bubat serta tidak menjadikan Sunda sebagai taklukan Majapahit. Sementara Langit Kresna mengakhirinya dengan kisah matinya Saniscara dan membiarkan mengambang tentang bagaimana kemudian posisi Majapahit dan Sunda Galuh setelah tragedi Bubat.
Secara umum, Dyah Pitaloka adalah tentang Dyah Pitaloka Citraresmi, ketragisan Perang Bubat serta ambisi Gajahmada, dan Hermawan pun lebih banyak bermain dengan peristiwa tragis, romantis dan sangat emosional, dengan istilah dan keindahan antara Bahasa Sunda-Jawa.
Sedangkan cerita Perang Bubat, Langit Kresna banyak menyertakan banyak kisah pengiring yang menambah khasanah dan menjadikan buku lebih tebal. Beberapa menggunakan istilah Jawa, tanpa banyak seni bahasa. Namun, Langit Kresna piawai dalam bercerita heroik, kedigdayaan, ketentaraan atau nasionalisme secara tidak langsung. Persis satu warna dengan kisah-kisah ’positif’ Gajahmada lain garapannya, diawali kisah Gajahmada menyelamatan Jayanegara (putra raden Wijaya, raja sebelum Tribuanatunggadewi) dari pemberontakan Ra Kuti. Jika membaca Gajahmada bagian pertama ini, pembaca akan mendapatkan gambaran situasi perang dengan formasi-formasinya yang gegap gempita.

Sangat kontras, wajah Gajahmada dalam dua karya sastra diatas. Mungkin karena sebuah karya memang tak bisa dilepaskan dari latar belakang penulisnya. Jika Mas Her (demikian biasa saya menyapanya) seorang jurnalis sebuah media di bandung, lahir dan besar di Brebes-perbatasan Jateng-Jabar (Jawa-Sunda), maka DP yang sarat bahasa Jawa-Sunda mirip sebuah ’sudut pandang’ Sunda dengan menempatkan Gajahmada (atau Majapahit umumnya) sebagai ’terdakwa’. Sementara Langit Kresna Hariadi adalah mantan seorang penyiar radio yang lahir di Banyuwangi, adalah seorang Jawa tulen. Sehingga kita akan beranggapan wajar, jika nuansa yang dibangun keduanya juga berbeda dengan kreativitas sana-sini layaknya sebuah fiksi-realis.