Sabtu, 21 Mei 2011

PERBEDAAN SEKOLAH NEGERI & SWASTA

Ketika ada seseorang menanyakan kepada Anda, “Setelah lulus, mau lanjutin ke sekolah negeri atau swasta?” Mendengar pertanyaan tersebut, tentunya sebagian besar dari kita akan menjawab, “Ke Sekolah Negeri saja lah, lebih murah di Negeri daripada Swasta, dan biar bisa sedikit meringankan beban orang tua.” Dari dialog tersebut, saya menjadi bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang membedakan antara sekolah negeri dengan sekolah swasta? Mengapa kebanyakan orang lebih memilih bersekolah di sekolah negeri daripada di sekolah swasta? Apakah hanya karena biaya sekolah di sekolah negeri lebih murah daripada di sekolah swasta?

Menurut pendapat sebagian besar orang, orang yang bersekolah di sekolah swasta termasuk orang kalangan menengah ke atas atau bisa dikatakan orang dari golongan borjuis. Sedangkan sekolah negeri untuk kalangan biasa. Menurut mereka, biaya yang dikeluarkan di sekolah swasta lebih banyak apabila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan di sekolah negeri. Mengapa bisa demikian? Hal tersebut dikarenakan sekolah negeri mendapat bantuan dana dari pemerintah berupa dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), sedangkan sekolah swasta tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah. Dalam artian berdiri sendiri atau mendapat dana dari organisasi tertentu yang tentu saja jumlahnya tidak lebih besar daripada yang didapatkan oleh sekolah negeri.
Pendapat mereka yang demikian mungkin saja benar dan mungkin juga tidak benar. Namun yang pasti, hal tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya, bahkan diragukan karena sampai sekarang pemerintah baru bersedia mengucurkan dana negara sebesar 20% saja. Yang mana dengan jumlah tersebut, tentu saja belum mencukupi kebutuhan sekolah secara keseluruhan, dalam artian hanya cukup untuk fasilitas, gaji guru dan karyawan serta pembelian buku-buku teks. Sedangkan kebutuhan siswa tidak dapat dipenuhi negara, seperti baju seragam, buku dan alat tulis, ataupun yang lainnya. Di mana pendanaan dari pemerintah yang dinamai BOS tersebut dalam penggunaannya belum dilakukan secara transparan. Dan pada akhirnya orang tua jugalah yang harus berupaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bahkan untuk biaya pembangunan atau yang biasa disebut dengan uang gedung masih sering diminta dari pihak wali murid, dengan alasan bahwa infrastruktur yang baik dapat menghasilkan kenyamanan belajar. Selain itu, pihak sekolah juga menambahkan bahwa dana dari pusat sama sekali tidak mencukupi bagi terlaksananya pembangunan guna memenuhi kepentingan pendidikan.
Sementara itu, dalam hal pembiayaan di sekolah swasta justru lebih bersifat transparan. Sejak awal masuk sekolah, wali murid sudah disodori lembaran-lembaran yang berupa rincian biaya yang harus dikeluarkan oleh wali murid kepada pihak sekolah. Di mana biaya tersebut jelas-jelas untuk kepentingan sekolah dan peningkatan mutu sekolah tersebut, dan juga untuk kelancaran proses pembelajaran. Biaya pendidikan di sekolah swasta terlihat mahal dan kurang terjangkau untuk kalangan biasa agar sekolah swasta tersebut dapat bertahan baik dalam bentuknya maupun dari segi kualitasnya.
Tidak semua sekolah berlabel negeri berkualitas, karena sebenarnya banyak sekolah negeri yang kurang berkualitas, dan bahkan banyak dari sekolah swasta yang berkualitas, alias tidak ecek-ecek. Dan satu hal yang perlu kita perhatikan, tingkatan pendidikan di sekolah negeri dengan di sekolah swasta adalah SAMA. Tidak ada perbedaan dalam cara penyampaian materi maupun hasil yang ingin dicapai baik oleh sekolah negeri maupun sekolah swasta, keduanya mengharapkan dapat membentuk manusia yang berkualitas dan berguna bagi masyarakat.
Salah satu penyebab berkurangnya siswa yang masuk ke sekolah swasta yaitu sekolah negeri. Sekolah negeri telah menambah daya tampung siswa dengan menambahkan ruang kelas di sekolah mereka. Adapun hal demikian semakin menarik minat dari siswa maupun orang tua agar anak kebanggaannya bisa masuk ke sekolah negeri tersebut. Sementara di sekolah swasta jumlah ruang tersedia empat ruangan untuk setiap tingkatan, namun yang terisi hanya dua atau bahkan hanya satu ruangan, dan tambahan kelas di sekolah negeri lah yang sebagian besar menjadi penyebabnya.
Sekolah negeri dengan kurikulumnya berupa KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) menuntut siswa agar aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar, dan menekankan bahwa sumber ilmu tidak hanya dari pengajar tapi juga dari sumber lain yang mengandung unsur edukatif. Hal demikian tidak berarti sekolah swasta kalah dari segi kurikulum karena sekolah swasta menawarkan kurikulum nasional plus, yang artinya pada sekolah swasta ada keunggulan lain yang ditonjolkan seperti penggunaan bahasa asing pada proses belajar mengajar dan ada plus juga dari segi kerohanian (baik itu Islam, Kristen, Budha, dan lainnya).
Dan pada akhirnya, walaupun sekolah mempunyai sedikit siswa namun mampu mencetak siswa sehingga bisa menjadi panutan bagi masyarakat, maka sekolah tersebut dapat dikatakan berhasil dalam mendidik anak didiknya untuk menjadi siswa yang berguna bagi bangsa dan negara, dengan demikian tercapailah tujuan dari pendidikan Indonesia. ( dirangkum dari beberapa artikel antara negeri & swasta )